Ketimpangan Melebar, Indonesia Bakal Segera Pindahkan Ibukota

0
2


Keberhasilan Brasil memindahkan Ibukota negara menjadi pelarajan penting bagi Indonesia yang berencana memindahkan Ibukota negara dari Jakarta ke wilayah lain.

Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan, pemindahan ibukota baru diharapkan memicu pertumbuhan ekonomi, dan mendorong pemerataan pembangunan. 

“Ibukota baru harus didesain dan dipikirkan oleh bangsa Indonesia sendiri. Bagaimanapun Jakarta didesain dan dibangun oleh Pemerintah kolonial, VOC, Hindia Belanda. Dijadikan pusat pemerintahan, dan diteruskan menjadi ibu kota negara hingga saat ini,” kata Bambang di Jakarta.

Menurut Bambang, pemerintah saat ini ingin membangun Ibukota dengan kemampuan sendiri dan memiliki tata kota dan urban planning yang sangat baik dan nyaman untuk penghuninya. 

“Untuk itu, kita harus belajar dari negara yang sudah berhasil memindahkan ibu kota, salah satunya Brasil. Alasan Kalimantan, selain ketersediaan lahan luas, relatif bebas bencana, wilayahnya lebih Indonesia-sentris. Indonesia tengah itu ada di Selat Makasar, namun Sulawesi masih rentan gempa dan tsunami. Jadi pilihannya Kalimantan,” jelasnya.

30 Ibukota Negara Pindah Dalam 100 Tahun

Bambang mengatakan, bahwa ide pemindahan ibukota baru bukan hal yang baru sama sekali. Dalam 100 tahun, lebih dari 30 negara sukses memindahkan Ibukota. Sejarah mencatat, setiap 3-4 tahun terjadi pemindahan ibu kota, bahkan akhir-akhir ini berlangsung hampir setiap dua tahun sekali. 

“Selain Brasil, banyak negara memindahkan Ibukota. Malaysia yang pusat administrasinya ke Putrajaya. Korea Selatan dari Seoul ke Sejong. Kazakhstan dari Almaty ke Astana, juga Australia ke Canberra. Pakistan, Nigeria, bahkan Mesir juga pernah memindahkan ibu kota. Namun, Indonesia punya satu keunikan, satu-satunya negara kepulauan terbesar di dunia. Kita akan pindahkan Ibukota antar pulau,” kata Bambang.

Menurutnya ada satu alasan pemindahan Ibukota yang mungkin mirip dengan Brasil, meskipun Brasil kontinen. 

Ketika itu, Ibukota dipindahkan dari Rio de Janeiro sebagai pusat denyut ekonomi Brasil ke Brasilia. 

Sementara denyut ekonomi Indonesia adalah Jakarta sekitarnya. Kaitannya dengan denyut ekonomi, Pulau Jawa akhirnya menjadi pulau yang sangat padat dengan ekonomi. Sangat tinggi sehingga menciptakan ketimpangan dengan pulau-pulau di luar Jawa. 

“Kalau kita membiarkan ini berkelanjutan tanpa ada upaya penanganan serius, maka ketimpangan akan semakin parah,” jelas Bambang.

Seperti diketahui, tahun 1960, Ibukota Brasil dipindahkan ke Brasilia dengan tujuan untuk memperbaharui kebanggaan nasional masyarakatnya dengan membangun ibu kota modern di abad 21. Meningkatkan kesatuan nasional dengan membuka lahan kosong di tengah-tengah Brasilia, sekaligus mengurangi ketimpangan. 

“Untuk itu, kita juga berupaya meratakan pembangunan antara Jawa dan luar Jawa. Ketimpangan pendapatan dan ekonomi ini yang harus kita atasi. Paling tidak, kita dapat mengurangi ketimpangan tersebut,” papar Bambang.

Beredarnya Pulau Kalimantan sebagai wilayah baru Ibukota yang dipilih pemerintah, mulai memunculkan polemik. Salah satunya adalah isu lingkungan, pemindahan Ibukota ke Pulau Kalimantan dinilai akan memberikan kerusakan alam.

“Pembangunan ibu kota baru tidak akan mengurangi luas hutan lindung. Pada saat membangun ibu kota kita harus melakukan reforestrasi, konsep kotanya juga kota hijau sehingga hutan akan terjaga,” tegasnya.

Editor: Ayyi Achmad Hidayah





Source link

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here